Beberapa hari yang lalu, saya menemukan sebuah artikel menarik di Toyo Keizai Online. Artikel tersebut menyajikan peringkat “persentase penduduk asing terhadap total populasi” berdasarkan 1.892 kota, distrik, dan desa di seluruh Jepang.

Peringkat pertama ditempati oleh Desa Kawakami di Prefektur Nagano. Persentase penduduk asingnya mencapai 37%. Artinya, lebih dari satu dari tiga penduduk di sana adalah warga asing.

Desa Kawakami merupakan salah satu produsen selada terkemuka di Jepang, dan lebih dari 90% dari sekitar 500 petani di desa tersebut mempekerjakan tenaga kerja asing. Dari 1.345 warga asing yang tinggal di sana, 917 di antaranya memegang status "Keterampilan Khusus Tipe 1". Jumlah ini bahkan telah meningkat 3,6 kali lipat dalam tiga tahun terakhir. Tanpa tenaga kerja asing, pertanian di desa ini tidak akan bisa bertahan.

Dan yang paling mengejutkan adalah perubahan komposisi kewarganegaraan. Tiga tahun lalu, tenaga kerja tersebar di antara Vietnam, Tiongkok, dan Indonesia, namun kini warga Indonesia berjumlah 868 orang dan mendominasi 64,5% dari total. Indonesia benar-benar menjadi "kekuatan tunggal" di sini.

Seiring pertumbuhan ekonomi, Vietnam dan Tiongkok mulai kehilangan daya tarik bagi para pekerja untuk datang ke Jepang. Di sisi lain, Indonesia memiliki populasi muda yang besar dan keinginan yang kuat untuk bekerja di Jepang. Semangat para calon pekerja yang kami rasakan setiap kali mengunjungi lembaga pengirim tenaga kerja di Indonesia benar-benar sesuai dengan data ini.

Namun, angka ini tidak hanya menjadi "angin segar", tetapi juga merupakan tanggung jawab besar. Fakta bahwa jumlah orang sebanyak ini menopang industri utama di daerah berarti kualitas penerimaan mereka akan menentukan masa depan wilayah tersebut. Era di mana "cukup mengirimkan orang" sudah lama berlalu; kini yang dipertanyakan adalah apakah kita mampu mendampingi mereka, termasuk dalam dukungan penyesuaian dan penyediaan lingkungan hidup yang layak.

Contoh di Desa Kawakami adalah di bidang pertanian, namun hal yang sama juga mulai terjadi di bidang perawatan lansia, jasa makanan, konstruksi, dan perhotelan. Sebagai pihak yang terlibat dalam perekrutan tenaga kerja Indonesia, saya ingin terus memberikan dukungan agar setiap individu dapat benar-benar berakar di daerah tersebut, bukan sekadar “merekomendasikan dan selesai”.